Keruhnya Sumber Air Akibat Tambang Nikel Kolaka

By Tempo Dotco

March 13, 2025

Kondisi aliran Sungai Hakatutobu yang tertutub sedimen ore nikel di Desa Hakatutobu, Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, 25 Februari 2025.
Kondisi aliran Sungai Hakatutobu yang tertutub sedimen ore nikel di Desa Hakatutobu, Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, 25 Februari 2025. (Photo: Tempo/Zainal A. Ishaq)
https://www.tempo.co/investigasi/air-bersih-tambang-nikel-koloka-1218975

Investigasi Tempo yang didukung the China-Global South Project menyimpulkan penambangan nikel di Pomalaa, Kolaka, merusak tata air hulu Sungai Hakatutobu sehingga memicu banjir berlumpur, menghilangkan sumber air bersih warga, dan memperparah sedimentasi pesisir yang memukul mata pencaharian perikanan.

Tesis/Argumen Pokok

Dorongan industrialisasi nikel, termasuk proyek strategis nasional Blok Pomalaa oleh Antam dan Vale di bawah MIND ID, mengalihkan biaya lingkungan ke masyarakat: sungai yang dulu menopang ±1.200 warga menjadi keruh dan mengering saat kemarau, rumah terendam banjir lumpur, dan pesisir tertutup endapan, sementara respons korporasi dan mitigasi pemerintah tertinggal.

Lead (alur gagasan utama)

Laporan dibuka dengan banjir bandang 11 Maret 2025 yang merusak rumah warga di Desa Hakatutobu, lalu menelusuri ke hulu: bukaan lahan, ekskavator, dan gundukan tanah di area tambang.

Narasi bergerak kembali ke hilir: krisis air bersih memaksa pengeboran sumur dangkal, lalu ke pesisir Teluk Bone yang berubah menjadi hamparan lumpur kemerahan hingga ±500 meter saat surut.

Frame melebar ke konteks kebijakan, PSN, nilai investasi, dan operator, serta ditutup dengan tuntutan warga soal cekdam dan jawaban pemerintah daerah; MIND ID belum memberi jawaban substantif saat terbit.

Pokok-Pokok Argumen

Gangguan hidrologi dari tambang di hulu: Vegetasi hilang, aktivitas alat berat dan angkutan tanah meningkatkan erosi; tanggul karung pasir warga jebol; banjir berlumpur berulang.

Hilangnya akses air bersih rumah tangga: Sungai andalan warga kini keruh setelah hujan dan kering saat kemarau; sumur tepi sungai tertimbun lumpur; warga beralih ke sumur bor ±7 meter.

Sedimentasi pesisir dan pukulan ke perikanan: Endapan merah menutup pantai pertemuan tiga sungai; kerapu menjauh; keramba yang dulu memasok ekspor ke Singapura terpukul.

Skala dan aktor: Penambangan sejak 2007; sedikitnya lima perusahaan aktif; Antam dan Vale di bawah MIND ID; Blok Pomalaa dikaitkan pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik (PSN, nilai investasi besar).

Respons dan celah akuntabilitas: Kepala desa mendorong pembangunan cekdam; Pemkab Kolaka mengakui perubahan struktur tanah/batuan dan menjanjikan perbaikan lewat dana CSR; MIND ID menyatakan berkoordinasi namun belum menanggapi substansi hingga publikasi.

Landasan historis: Jejak geologi sejak awal 1900-an, Antam mengelola sejak 1968, menegaskan kawasan tambang lama yang kini memasuki fase hilirisasi intensif.

Published Date:

March 13, 2025

Amplify African
Voices

Take our free online course prepared by African journalists for African journalists and become a respected voice on the climate crisis.

Start course
Image of a globe displaying Africa

Keruhnya Sumber Air Akibat Tambang Nikel Kolaka